HISTORY – Ketika membahas mengenai sejarah Pulau Jeju, mungkin yang pertama kali terlintas adalah sebuah pulau indah dengan laut, alam, dan suasana yang cocok untuk berlibur. Begitu pula dengan Banda Neira, sebuah pulau di Indonesia yang kini banyak dikenal karena keindahan alamnya yang asri.
Namun, ada sisi lain dari kedua pulau ini yang mungkin tidak langsung terlihat dari keindahan wisatanya. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi yang menarik bagi para pelancong, Pulau Jeju dan Banda Neira pernah menjadi tempat pengasingan.
Di sinilah menariknya membicarakan kedua pulau tersebut. Kita mungkin datang ke sebuah pulau untuk berlibur, menikmati pemandangan, atau sekadar mencari suasana baru. Tetapi bagi sebagian orang di masa lalu, sebuah pulau justru menjadi tempat untuk dijauhkan dari kehidupan yang sebelumnya mereka jalani.
Karena itu, kali ini saya tidak ingin melihat Pulau Jeju dan Banda Neira hanya sebagai destinasi wisata. Saya ingin melihat keduanya melalui kacamata sejarah: bagaimana sebuah pulau yang kini identik dengan keindahan ternyata menyimpan kisah tentang pengasingan, keterasingan, dan kehidupan orang-orang yang pernah dipaksa untuk tinggal jauh dari tempat asalnya.
Sejarah Pulau Jeju: Tempat Isolasi Mereka yang Dianggap Berdosa
Pulau Jeju merupakan salah satu tempat yang tidak asing lagi bagi Korean lovers. Saya kira, popularitasnya juga meningkat seiring dengan gerakan hallyu wave saat ini. Secara geografis, pulau kecil ini masuk ke dalam teritorial Korea Selatan. Namun, letaknya terpisah dari pulau utama di semenanjung Korea.
Jauh sebelum menjadi Korea Selatan, Pulau Jeju merupakan kerajaan independen bernama Tamna. Pada masa yang sama, Korea diperintah oleh tiga kerajaan berbeda yaitu Goryeo, Baekje, dan Silla.

Tamna kemudian berhasil ditaklukan oleh Dinasti Goryeo. Namanya berganti dari Tamna menjadi Jeju yang berarti ‘sebuah desa besar di seberang lautan’. Di era inilah Pulau Jeju digunakan sebagai tempat buangan untuk mereka yang dihukum.
Memasuki masa Dinasti Joseon, tempat ini menjadi tempat pengasingan resmi negara. Mengutip webzine.museum.go.kr, pada masa itu terdapat beberapa jenis hukuman: eksekusi, pengasingan, kerja paksa, hingga cambukan. Pengasingan menjadi hukuman terberat kedua ketika itu.
Letak Pulau Jeju yang jauh dari pulau utama menjadikannya tempat yang pas untuk isolasi. Kehidupan di tempat asing, jauh dari sanak saudara, serta tanpa ada harapan kembali–pemerintah Joseon pernah menutup akses untuk orang-orang dari Jeju selama 200 tahun, menjadi sebuah mimpi buruk bagi mereka yang mendapat hukuman.
Orang yang diasingkan ke Pulau Jeju ketika itu juga beragam. Mulai dari anggota keluarga kerajaan, pejabat, sarjana, sampai orang-orang dari lapisan bawah masyarakat. Motifnya pun bermacam-macam: politik, pencurian, bahkan curang saat ujian pegawai sipil negara.
Saat ini pun orang masih berbondong-bondong pergi ke Pulau Jeju, mengisolasi dan menutup diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Namun, kabar baiknya adalah mereka datang bukan karena dihukum dan bisa pulang kembali ke rumah tanpa larangan.
Sejarah Banda Neira: Jangan Mati Sebelum ke Sana!
“Jangan mati sebelum ke Banda Neira!” Suatu ungkapan yang sudah sangat familier di telinga orang Indonesia. Ungkapan ini muncul dari perkataan Sutan Sjahrir.
Sebenarnya ada apa di Banda Neira? Kenapa kita jangan mati dulu sebelum pergi ke sana?
Banda Neira merupakan salah satu pulau kecil dari gugusan pulau di Kepulauan Banda, Maluku. Ketika masa kolonialisme, pulau ini merupakan penghasil pala yang banyak diincar oleh penjajah.
Pada masa Kebangkitan Nasional, dua pahlawan Indonesia yang terkenal pernah diasingkan ke Banda Neira. Mereka adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Karena sikap mereka yang antipati dan dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah Belanda, mereka akhirnya diasingkan ke pulau ini.
Sebelumnya, kedua tokoh ini diasingkan ke Boven Digoel, Papua. Namun, pada 1936, mereka dipindahkan ke Banda Neira. Selain Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, terdapat juga tokoh nasional lain seperti Iwa Koesoemasoemantri dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo di pulau Banda ini.
Selama pengasingannya, Sutan Sjahrir sering menggambarkan keelokan alam di pulau ini melalui tulisan/suratnya. Indahnya pulau pala ini pun menjadi latar belakang munculnya ungkapan jangan mati sebelum ke Banda Neira.

Pulau ini memiliki pesona alam yang sangat indah, baik di darat maupun di laut. Hijaunya pohon dan tumbuhan, gagahnya gunung yang menjulang, apiknya benteng Belgica, serta alam baharinya yang elok, menjadi daya tarik yang tidak hanya memikat hati Sutan Sjahrir, namun juga orang-orang lintas generasi.
Baiklah, jika kita belum sempat ke Banda Neira, mungkin kita bisa berlatih dengan menatap bagian belakang uang seribu rupiah, kemudian berdoa agar bisa cepat ke sana. Tentunya, jangan lupa untuk mengumpulkan uang.
Sebuah Refleksi: Haruskah Putus Asa di Tempat Asing?
Seseorang pernah berkata bahwa besar kecilnya masalah tidak didasarkan pada masalahnya itu sendiri, melainkan pada cara pandang kita terhadap kesulitan tersebut. Semua ini tentang sudut pandang dan pola pikir.
Di situasi keterasingan pun, sebagian orang masih memilih untuk tetap bertahan dan berkembang. Mereka menganggap pengasingan bukan sebagai masalah besar. Di Pulau Jeju maupun Banda Neira, terdapat orang yang tetap memutuskan untuk berkarya dan menyebarkan manfaat, alih-alih murung di pojok ruang antar berantah.
Dalam sejarah Pulau Jeju, seorang seniman terkenal bernama Kim Jeonghui menjadi salah satu dari banyaknya tahanan ketika itu. Selama terisolasi, dia menciptakan lukisan monumentalnya bernama Sehando atau Winter Scene. Ketika itu, dia juga mengembangkan gaya tulisan tinta bernama Chusache.
Di Pulau Banda, Mohammad Hatta masih produktif mencurahkan pemikirannya melalui tulisan-tulisannya di surat kabar. Ketika masa itu juga, Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir mendirikan sekolah dan mengajar anak-anak di pulau tersebut. Mereka juga menyebarkan semangat nasionalisme dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat di sana.
Kedua tempat ini, Pulau Jeju dan Banda Neira, dahulu merupakan tempat isolasi bagi mereka yang dianggap bersalah. Namun sekarang, kedua tempat ini menjadi tujuan destinasi wisata yang terkenal karena keindahan alamnya, serta sejarahnya yang penuh dengan perjuangan.
FAQ Seputar Sejarah Pulau Jeju dan Banda Neira
Apa kesamaan sejarah Pulau Jeju dan Banda Neira?
Keduanya sama-sama pernah digunakan sebagai tempat pengasingan. Meskipun berada di negara dan konteks sejarah yang berbeda, Pulau Jeju dan Banda Neira sama-sama menjadi tempat bagi orang-orang yang harus menjalani kehidupan jauh dari lingkungan asalnya.
Apakah Pulau Jeju pernah menjadi tempat pengasingan?
Ya. Dalam sejarah Korea, Pulau Jeju pernah digunakan sebagai tempat pengasingan bagi sejumlah tokoh yang dianggap perlu dijauhkan dari pusat kekuasaan.
Siapa tokoh yang pernah diasingkan ke Banda Neira?
Beberapa tokoh pergerakan nasional Indonesia pernah diasingkan ke Banda Neira, di antaranya Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.
✦✦✦




Pingback: Permainan Bola di Yunani Kuno: Apakah Benar Merupakan Nenek Moyang Langsung Sepak Bola? -