Alam memberi dorongan
Untuk mengabadikan hasil tangan kotor manusia
Setidaknya lewat cerita
Sinar matahari mengintip di sela-sela dahan yang menjulang tinggi. Air sisa hujan menetes dari atas kanopi, mendarat dengan lembut dan disambut tanah yang masih kehausan. Angin berhembus pelan sekali, mengetuk pintu-pintu rumah seolah memberi tahu orang di dalamnya untuk segera keluar menyambut hari.
Gelak tawa burung ikut menyumbang harmoni, bersiap unjuk diri lewat nyanyian pagi. Belum sempat mengatup paruh, nyanyian burung kecil mendapat interupsi dari rangkong yang sibuk tunggang-langgang sedari subuh. Rangkong itu seolah memberi kabar bahwa sekelompok orang yang wajahnya begitu asing telah menginjakkan kaki di pulau ini.
Kedatangan orang-orang yang tidak kami kenal bukanlah perkara baru. Tempat ini sering menarik bermacam-macam orang dari penjuru negeri untuk datang menetap atau sekadar berkunjung. Aku sangat paham. Keindahan alam di sini memang sangat menjanjikan: tanah gambut yang begitu subur, hektaran hutan hijau yang membentang luas, kekayaan bahari yang melimpah ruah, harmoni ekosistem yang jarang ditemui, serta suara rangkong yang khas—meski mereka tidak bisa bernyanyi. Namun, mereka yang datang hari ini sedikit berbeda. Bukan rasa takjub yang terpancar dari mata mereka. Melainkan sebuah ambisi yang jelas tersirat dalam gerak-gerik penuh perhitungan.
Dan benar saja, dua hari kemudian, orang-orang asing itu menampakkan sesuatu yang sangat mencurigakan. Apa yang kusangsikan ternyata bukan omong kosong belaka.
Kata Abo, mereka melakukan percakapan aneh bersama Kara—anak Pak Tua yang tidak pernah akur dengan bapaknya itu—di gubug reyot di tengah hutan. Mereka mengoceh tentang hal-hal yang, sayangnya, tidak bisa diingat oleh otak Abo maupun Rinus. Hanya kata rendemen yang untungnya masih tersisa di ingatan Rinus.
“Kau tahu, Suma? Mereka benar-benar aneh. Setelah membicarakan omong kosong itu bersama Kara, mereka tertawa bersama. Apakah rendemen itu sesuatu yang lucu? Apakah dia lebih lucu dari rambut aneh Abo di pagi hari?” protes Rinus saat melaporkan apa yang dia lihat sebelumnya.
“Tapi, Suma… yang paling mencurigakan adalah barang yang mereka bawa. Para orang asing itu membawa tabung-tabung besar berwarna gelap berisi cairan yang mengeluarkan bau menyengat. Hidungku rasanya ingin terbakar menciumnya. Aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya cairan itu adalah sesuatu yang buruk,” tambah Abo menghiraukan perkataan Rinus.
Saat aku sedang mencoba menebak barang apa yang dimaksud Abo itu, Ela berteriak dengan tubuh besarnya sambil lari terbirit-birit menuju kami.
“Gawat! Ada orang asing membuat keributan di rumah Rinus. Mereka membawa benda aneh,” teriak Ela dengan napas tersengal-sengal.
“Orang asing? Apa mereka datang bersama Kara?” tanya Rinus penasaran. Kepala Ela mengangguk beberapa kali, menandakan jawaban iya atas pertanyaannya itu.
“Benar, kan, apa yang aku katakan! Si Kara dan orang dari luar pulau itu punya niat yang jahat,” tegas Abo.
Rinus tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung berlari menuju rumahnya. Kami yang saat itu tidak kalah kagetnya juga ikut berlari bersama Rinus dengan dilanda rasa penasaran dan hati yang resah.
Kaki yang dari tadi terus berlari kemudian berhenti tepat saat kami semua melihat pemandangan yang begitu mengkhawatirkan. Langit yang cerah jadi nampak gelap hari itu. Ia seolah bersinar dengan enggan menaungi ibu Rinus yang sedang terisak. Dengan langkah yang lunglai, Rinus menghampiri sang ibu. Keluarga lainnya pun tersungkur menangis menguatkan satu sama lain.
Kakek Rinus menjelaskan adegan naas yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Kara—lagi-lagi—membuat onar. Ia bersama kawan-kawannya itu datang tanpa diundang ke rumah keluarga Rinus. Mereka mengacak-acak isi rumah dan merobohkan tiang-tiangnya yang kokoh. Semuanya hancur. Rinus dan keluarganya kehilangan rumah yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun-temurun.
“Kami sempat menghalaunya, tapi Kara dan beberapa temannya itu tidak mau berkompromi. Mereka bilang kami egois. Rumah ini adalah milik banyak orang, bukan hanya kami seorang,” Kakek Rinus menjelaskan.
“Mereka juga bilang akan membangun rumah baru di tanah ini. Kawasan baru itu akan memberi banyak manfaat bagi semua orang. Mereka yang tidak punya pekerjaan akan bekerja melalui proyek ini.”
“Tapi, bagaimana kami bisa mempercayai Kara? Dia saja hidup dengan menangkap dan menjual rangkong yang tidak bersalah. Belum lagi dia sering mencuri kayu di dalam hutan dengan gergaji besarnya itu,” lanjutnya.
Apa yang disampaikan Kakek Rinus memang ada benarnya. Perilaku Kara selama ini memang tidak bisa dipercaya. Dia selalu saja membuat keributan di wilayah kami. Belum lagi gergaji kesayangannya itu. Suaranya benar-benar menyiksa gendang telinga semua orang.
Setelah kekacauan yang tidak bisa dimaafkan itu, kami pergi menemui Pak Tua dengan hati yang masih diliputi amarah. Tidak… kami tidak marah kepada bapak Kara itu. Ia adalah sosok yang bijaksana. Aku tahu dia adalah orang baik.
Pak Tua yang selalu aku lihat dari jauh adalah orang yang begitu mencintai penduduk di desanya—juga menghormati kami yang hidup di luar kawasannya. Ia sering memberitahu tetangga-tetangganya untuk tidak mengganggu kami. Dia adalah orang yang penuh cinta, dicintai, dan bisa menebarkan cinta di hati orang lain. Meski Kara jarang mendengarkan perkataan Pak Tua, kami yakin kali ini sikap tegasnya bisa menghentikan perilaku Kara yang telah sangat keterlaluan itu.
Kami pun bertolak dari rumah dengan optimis dan penuh harap. Namun, asa itu pupus bahkan sebelum kami sempat mengetuk pintu rumah Pak Tua.
“Dia sudah pergi kemarin. Dipaksa pindah oleh anaknya,” kabar seseorang.
***

Angin panas bertiup kencang ke arahku yang sedang berdiri lunglai di atas bukit yang tidak begitu tinggi menjulang. Mataku menyisir sekeliling. Kepulan asap pekat meraung-raung di udara, menutupi semua hamparan yang ada di bawah sana.
Semua begitu hening. Yang terdengar hanyalah suara letupan ranting pohon dan daun-daun kering yang mendesis. Apakah pemandangan ini persis seperti ribuan tahun lalu saat gunung Toba sedang murka?
Sudah berhari-hari aku diam termangu di atas bukit yang pengap ini. Bagaimana kabar keluargaku? Apakah mereka selamat? Bagaimana dengan kawanku Abo, Rinus, dan Ela? Apakah mereka baik-baik saja? Mereka masih… hidup, kan?
Sekelebat memori menghampiriku di tengah rasa haus dan lapar yang teramat sangat. Beberapa hari yang lalu, kawasan ini masih baik-baik saja sebelum akhirnya kami mencium bau minyak yang menyelinap dari tanah. Bagaikan angin topan yang bergerak cepat, kepulan asap hitam segera menutupi semua tempat.
Dalam perjalanan mencari tempat perlindungan, aku menyaksikan sebuah adegan yang sangat mencekam. Jalan setapak yang familiar ketika itu terasa asing. Ia begitu mengerikan karena dipenuhi banyak mayat yang wajahnya sudah tak kuketahui lagi. Aku menangis, hatiku menjerit. Bagaimana dengan ibuku, juga saudaraku? Apakah mereka juga terkapar tak berdaya seperti itu?
Di atas bukit yang sudah tak bisa kusebut indah ini, mataku kembali menyisir sekitar. Kemana perginya rumah mewah kami? Setelah rumah Rinus yang dihancurkan secara paksa, sekarang, seluruh rumah di kawasan kami pun hangus tak tersisa. Hanya ada nyala jelaga yang terbang ke sana-kemari tanpa arah. Ia ikut berduka, seolah meminta maaf karena tak bisa mempertahankan satu-satunya tempat berlindung kami.
Batinku terus bertanya tanpa henti: Apakah ini harga yang harus dibayar untuk berbagi? Apakah dengan hidup seperti ini, mereka—makhluk nirempati yang ingin membangun rumah baru di pulau ini—akan puas dan hidup bahagia, kemudian pergi?
Aku termenung.
Ah… aku benar-benar sendirian sekarang. Aku tak lagi punya rumah, juga tak punya siapa-siapa untuk kembali. Sedih terus menggerogoti, mengabarkan bahwa sekarang aku hanya orang asing di tanah kelahiranku sendiri.
Baca Juga: Aku Hindania, Orang yang Sama yang Disebut oleh Hatta
***
Namaku Suma. Orang memanggilku Panthera tigris sumatrae. Hari ini aku kehilangan rumahku, saudaraku, juga teman-temanku: Abo (Pongo Abelii), Rinus (Dicerorhinus sumatrensis), dan Ela (Elephas maximus sumatranus).
Aku Suma, satu di antara fauna penghuni tempat yang jadi salah satu situs warisan dunia. Dulu, aku hidup di salah satu surga dunia. Hari ini, tempatku telah berubah menjadi neraka khatulistiwa.
✦✦✦


