HISTORY – Jika kita ingin mengenal “uang” lebih dalam, membahas mengenai sejarah uang tentu tidak bisa dilewatkan. Karena pada dasarnya, dengan mengetahui terlebih dahulu perkembangan bagaimana manusia berinteraksi dengan uang dari masa ke masa, kita akan mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang uang itu sendiri.
Manusia telah melakukan interaksi sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan, tablet kuneiform dari peradaban Mesopotamia pernah mengabarkan adanya interaksi ekonomi yang terjadi di tengah masyarakat ketika itu. Ini menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi dan manusia merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Lalu, bagaimana manusia bisa mengenal uang dan akhirnya menggunakan uang seperti sekarang?

Barter
Barter merupakan aktivitas menukar barang dengan barang. Pada mulanya, manusia melakukan transaksi secara sederhana dengan berdasarkan pada kebutuhan masing-masing. Saat seseorang memiliki beras dan membutuhkan kopi, maka ia akan mencari orang yang membutuhkan beras dan memiliki kopi. Jika ia berhasil bertemu dengan orang tersebut, maka barter akan terjadi.
Namun, barter tidak bisa bertahan selamanya. Kehidupan semakin kompleks dan kebutuhan setiap orang semakin beragam. Selain itu, terkadang seseorang sulit menemukan orang yang memiliki kebutuhan dan barang yang sesuai. Maka dari itu, transasksi ekonomi memasuki babak baru yang dikenal dengan fase uang barang.
Namun, perlu digaris bawahi bahwa ketika manusia mengenal konsep uang—uang barang atau uang yang kita kenal sekarang—barter bukan berarti menghilang dari muka bumi ini. Bahkan hari ini, seseorang bisa saja melakukan barter.
Uang Barang
Uang barang atau commodity money adalah barang yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam kegiatan ekonomi. Perbedaannya dengan barter adalah biasanya uang barang terdiri dari satu atau beberapa komoditas yang memiliki nilai dan diakui secara umum. Uang barang biasanya memiliki acceptability sehingga bisa diterima oleh masyarakat.
Menurut bankofengland, konsep uang pertama kali muncul sekitar 9000 tahun SM, meski bentuknya berbeda dengan sekarang. Ketika manusia telah mengenal peternakan, hewan seperti sapi, domba, atau unta biasa dijadikan sebagai alat tukar—atau commodity money.
Contoh uang barang lainnya adalah teh di Tiongkok. Teh memiliki nilai yang tinggi ketika itu, sehingga penggunaannya sebagai alat transasksi bisa diterima oleh masyarakat Tiongkok dan sekitarnya. Seseorang mungkin sedang tidak memerlukan teh, tapi ia bisa menerimanya sebagai alat pembayaran karena ia juga bisa menggunakannya kembali saat bertransaksi dengan orang lain.

Beberapa barang lain yang tidak bisa dilewatkan adalah emas dan perak. Sebelum menjadi uang logam, emas dan perak pernah menduduki posisi yang penting sebagai uang barang karena nilainya yang berharga dan bisa diterima di masyarakat yang lebih luas.
Uang Logam
Logam yang digunakan sebagai uang biasanya terbuat dari emas, perak, alumunium, tembaga, atau logam campuran. Pada tahap ini, logam dibentuk menjadi bulat—atau menyerupai bulat—dan diberi tanda atau lambang otoritas tertentu. Kita mengenalnya dengan istilah koin.
Salah satu koin tertua yang pernah ditemukan adalah koin yang berasal dari Kerajaan Lydia di Asia Minor—sekarang Turki. Koin ini dibuat dari campuran perak dan emas sekitar tahun 700 SM.

Penggunaan koin sebagai mata uang segera menyebar ke wilayah Yunani, Persia, Makedonia, Kekaisaran Romawi, bahkan sampai ke berbagai wialayah di dunia.
Selama berabad-abad, orang menggunakan uang logam karena mudah dibawa-bawa (portability) dan bisa bertahan lama (durability). Selain itu, uang logam memiliki nilai yang stabil (stability on value) dan pastinya dapat diterima oleh banyak orang di berbagai tempat (acceptability).
Uang Kertas
Tiongkok merupakan negara pertama yang menggunakan uang kertas sekitar abad ke-7 M. Pada awal kemunculannya, uang kertas sebenarnya masih berhubungan dengan uang logam—khususnya emas. Karena masyarakat merasa kesulitan jika harus membawa uang logam/emas kemana-mana, maka muncul konsep tempat penyimpanan uang logam/emas.
Mereka yang menitipkan uang logam/emas di tempat tersebut akan mendapatkan sertifikat atau kertas tanda bukti kepemilikan. Kertas tersebut bisa digunakan sebagai alat transaksi dan kemudian bisa ditukarkan kembali suatu waktu ke dalam bentuk asalnya.
Ini artinya, suatu negara atau pemerintah tidak bisa mencetak uang kertas jika tidak ada emas yang masuk.
Seiring berjalannya waktu, karena kebutuhan akan banyak barang, kegiatan ekonomi yang semakin berkembang, hingga perang yang terus terjadi, maka uang kertas digunakan sebagai alat tukar yang tidak mewakili emas—seperti yang kita kenal sekarang.
Uang Elektronik
Perkembangan teknologi memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah uang. Saat ini, uang menjadi sesuatu yang berubah menjadi lebih praktis lagi. Uang tidak lagi berbentuk fisik, melainkan berbentuk elektronik.
Perkembangan uang di atas tidak berjalan dalam garis lurus. Artinya, satu jenis uang tidak digantikan oleh jenis lainnya dan kemudian menghilang. Uang-uang tersebut bisa berjalan berbarengan, tergantung waktu dan wilayah di mana uang tersebut digunakan.
Seperti sekarang, kita telah mengenal uang elektronik, tapi juga masih menggunakan uang kertas dan uang logam. Bahkan di banyak tempat, uang barang atau barter mungkin masih bisa terjadi.
***
FAQ Seputar Sejarah Uang
Kapan manusia mulai menggunakan uang?
Penggunaan uang berkembang secara bertahap. Sebelum koin muncul, masyarakat menggunakan sistem barter dan berbagai komoditas (uang barang) sebagai alat tukar. Koin logam kemudian berkembang di Lydia sekitar abad ke-7 SM.
Bagaimana sejarah perkembangan uang?
Sejarah uang berkembang dari sistem barter, penggunaan barang sebagai alat tukar, uang komoditas, uang logam, uang kertas, hingga uang modern seperti uang elektronik dan digital.
Mengapa manusia menciptakan uang?
Uang berkembang untuk mempermudah pertukaran barang dan jasa. Penggunaan uang mengatasi berbagai keterbatasan sistem barter, seperti sulitnya menemukan pihak yang memiliki barang yang dibutuhkan sekaligus menginginkan barang yang ditawarkan.

