BOOKS – Sudah lama saya ingin membagikan pandangan mengenai buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner ini. Jika tidak keliru, saya membaca buku ini di tahun 2024. Saat itu saya sedang menjalani proses recovery, dan buku ini menjadi salah satu rekan yang menemani hari-hari saya yang begitu membosankan.
Hal lain yang ingin saya katakan adalah bahwa buku ini menjadi karya yang berhasil membuat saya tertarik pada buku-buku lain. Ini patut dibanggakan—setidaknya bagi saya pribadi. Saya yang bukan kutu buku akhirnya memiliki ketertarikan pada membaca. Awal yang baik, dan… di sinilah saya sekarang: tetap berusaha membaca sebanyak mungkin dan membagikannya di ruang sempit ini.
Apa sebenarnya yang menarik dari buku ini? Jika judulnya adalah The Geography of Bliss – Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan, mungkinkah kita akan mendapatkan kiat-kiat menjadi bahagia dari negara-negara yang tercantum di dalamnya?
Informasi Buku The Geography of Bliss
Judul : The Geography of Bliss – Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit : Edisi Baru Cetakan II, 2014
Halaman : 532

Kemana Saja Eric Pergi?
Eric Weiner melakukan perjalanan ke beberapa negara untuk mencari tahu bagaimana masyarakat negara tersebut merasa atau mendefinisikan kebahagiaan. Ini menarik karena pada awalnya saya mengira Eric melakukan perjalanan ini untuk mencari kebahagiaan. Namun, ia sendiri menegaskan di awal bahwa ia tidak sedang mencari kebahagiaan.
Seorang penulis Eric Hoffer bahkan berkata, “Pencarian kebahagiaan adalah salah satu sumber ketidakbahagiaan.”
Baca Juga: Buku The Road to Persia karya Afifah Ahmad, Wajib Dibaca Sebelum Jalan-Jalan ke Iran!
Buku The Georaphy of Bliss menceritakan kisah perjalanan Eric di 10 negara berbeda. Pertama, ia mengunjungi negara van Oranje, Belanda. Ia menulis bahwa di Belanda, kebahagiaan adalah angka. Eric bertemu dengan seorang Bapak Riset Kebahagiaan bernama Ruut Veenhoven yang mengelola Database Kebahagiaan Dunia (World Database of Happiness), sebuah tempat di mana kebahagiaan diukur dengan perhitungan angka-angka.
Dari Belanda, perjalanan Eric berlanjut ke arah tenggara menuju Swiss. Di sana, kebahagiaan adalah kebosanan. Menurut saya, ini bukan dalam arti yang sebenarnya. Swiss justru merupakan negara yang efisien, tepat waktu, kaya, tidak pengangguran, bersih dan pendiam, tidak suka bercanda, serta benci membicarakan uang. Wow, sungguh menarik ada negara yang rakyatnya benci membahas mengenai uang. Alasannya? Lebih mengejutkan lagi. Menurut Eric, orang Swiss tidak suka menimbulkan rasa iri pada orang lain. Sebuah gagasan yang mungkin akan baik jika diterapkan di “suatu tempat”.
Selain tidak suka membuat orang lain iri, orang Swiss juga memiliki hubungan yang erat dengan alam. Memang seringkali alam yang asri dapat membawa benih-benih kebahagiaan bagi orang di sekitarnya. Namun, bagaimana dengan Bhutan? Apakah negara di Asia yang Eric kunjungi itu juga demikian?
Di Bhutan, kebahagiaan adalah kebijakan. Ada konsep yang dinamakan Kebahagiaan Nasional Bruto, sebuah gagasan Raja Wangchuk di mana kebahagiaan itu sendiri menjadi sebuah hal yang diperhatikan negara. Eric setidaknya melihat beberapa hal mengenai kebahagiaan di negara ini. Di Bhutan, kebahagiaan bisa berarti tidak banyak berharap dan sering mengingat kematian. Dengan kata lain, tenang dan apa adanya.
Jika kebahagiaan berarti tidak terlalu berfokus pada hal-hal duniawi, di Qatar, kebahagiaan adalah menang lotre. Pada satu titik, Qatar berubah menjadi negara kaya raya setelah ditemukannya cadangan minyak bumi di sana. Semenjak saat itu, uang bukan lagi menjadi hal yang perlu dikhawatirkan rakyat Qatar. Bahkan, orang di sana sering kali membeli barang mewah layaknya hal recehan. Terdengar hiperbola, tapi saya yakin Anda juga setuju bahwa uang bukan masalah di Qatar.
Kembali lagi ke Eropa, tepatnya di salah satu negara Nordik, Islandia. Sebuah negara yang begitu menarik perhatian saya pribadi. Kata Eric, di Islandia kebahagiaan adalah kegagalan. Apakah orang bahagia ketika gagal di sana? Yang saya tangkap, orang Islandia menganggap kegagalan bukanlah hal yang besar. Saat mereka melakukan sesuatu dan kemudian gagal, mereka tidak menganggap itu sebagai aib. Gagal adalah hal yang biasa. Mungkin bisa dikatakan seperti itu.
Baca Juga: Menemukan Buku yang Tepat: Benarkah Hanya Perlu Satu Buku Untuk Jatuh Cinta Pada Membaca?
Sebenarnya banyak sekali poin yang saya highlight mengenai Islandia. Namun, saya tentu tidak bisa menuliskan semuanya di sini. Mungkin saya bisa sedikit memberikan kesimpulan: orang Islandia adalah bangsa yang mencintai budaya, menjunjung kekeluargaan, serta menikmati hidup “saat ini”—sebuah sikap yang kadang luput kita terapkan.
Masih di Eropa, namun negara yang satu ini berada di bagian timur, Moldova. Kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lain. Alih-alih membahas mengenai bagaimana kebahagiaan tercipta di negara ini, Eric justru menunjukan sisi “tidak bahagia” yang mungkin jarang orang ketahui tentang Moldova. Jadi, sebenarnya mengapa mereka dikatakan tidak bahagia?
Bagaimana dengan negara lain yang Eric kunjungi? Apakah di sana mereka juga tidak bahagia? Atau justru mereka tetap memiliki cara untuk menjadi bahagia sebagaimana beberapa negara yang saya sebutkan di atas? Sepertinya sudah saatnya bagi Anda untuk mencari tahu dan menyelami buku ini lebih dalam.

Negara Mana yang Menurut Saya Paling Menarik?
Saya ingin memberikan sedikit pandangan. Bagi saya pribadi, Islandia adalah negara yang sangat menarik perhatian. Ketika saya membaca fakta-fakta mengenai negara ini dari buku The Geography of Bliss, saya terus bertanya, bagaimana bisa negara yang sering mengalami hari tanpa mendapat banyak cahaya matahari justru tetap kreatif? Bahkan, buku ini berkata bahwa hampir setiap orang Islandia adalah penyair atau penulis. Bukankah itu sangat menarik?
Selain itu, Swiss juga tidak bisa luput dari perhatian. Bukan karena alamnya saja yang indah, tetapi juga cara orang-orangnya bersikap. Jika kita melihat ke dalam negara kita sendiri, bukankah alam Indonesia juga tidak kalah indahnya dengan Swiss? Kita juga punya kedekatan terhadap alam, bahkan cenderung menjaganya seperti yang terlihat dari berbagai kearifan lokal yang ada. Namun, tentu tidak semua orang di sini “baik” pada alam.

Jika orang Swiss cenderung tidak peduli atau tidak terlalu mencampuri urusan orang lain sebagai bentuk penghormatan, maka di Indonesia, kita hidup dengan menjunjung tinggi nilai gotong royong dan saling beririsan untuk menunjukkan kepedulian. Namun, apakah kita juga bahagia sebagaimana orang Swiss di sana?
Entahlah.
Ingin menikmati hidup pun terasa sukar di sini. Ada perasaan bersalah jika berlaku demikian. Ada semacam pemikiran seperti bagaimana kita bisa merasa baik-baik saja di tengah negara yang sedang tidak baik?***


