OPINION – Para kutu buku jagat maya mungkin sudah tidak asing lagi dengan salah satu ucapan Najwa Shihab tentang membaca, “Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.”
Mungkin tidak hanya pecinta buku. Orang yang sedang berusaha untuk menyukai buku, atau bahkan mereka yang tidak terlalu suka membaca pun sering mengutip perkataan wanita yang akrab disebut Mbak Nana tersebut.
Perkataan Mbak Nana itu memang mendorong banyak orang untuk membaca. Namun, bagi saya pribadi, kutipan tersebut diikuti sebuah rasa penasaran: : apakah benar hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca?
Saya adalah seorang pecinta buku, tapi bukan dalam artian sebagai kutu buku. Saya memiliki kebiasaan membeli buku, namun tidak langsung membacanya—sepertinya saya memang seorang tsundoku sejati.

Judul buku kerap sangat menarik untuk dibaca. Namun saat saya mencoba menyelami isi buku, saya hanya akan bertahan selama beberapa halaman dan beralih kepada buku yang lain. Begitu seterusnya sampai saya hampir tidak pernah menyelesaikan satu buku secara menyeluruh.
Perkataan Mbak Nana tentang jatuh cinta pada membaca tersebut juga turut memotivasi saya. Saya terdorong untuk mencari satu buku, membacanya sampai selesai, kemudian saya akan jatuh cinta. Begitu hemat saya.
Namun, ternyata tidak sesederhana itu.
Dalam prosesnya, ada semacam rasa keterpaksaan. Saya terus mendorong diri saya untuk membaca dan menyelesaikannya. Namun, saat buku berhasil ditutup (diselesaikan), saya merasa tidak ada hasrat untuk membaca lagi. Bahkan, perasaan gampang bosan saat membaca itu tetap ada. Saya juga tidak menemukan rasa cinta itu. Kemudian, saya jadi bertanya-tanya, bukankah hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca?
Meski terjeda cukup lama untuk kembali membaca, saya masih berusaha membuka buku-meski terpaksa. Sambil meragukan perkataan Mbak Nana tadi, saya juga tetap membeli beberapa buku dengan judul yang menarik perhatian. Hingga akhirnya saya bertemu dengan The Geography of Bliss karya Eric Weiner.
Bertamasya di Ruang Sepi Lewat The Geography of Bliss
Buku Geography of Bliss karya Eric Weiner merupakan buku yang berisi kisah perjalan menapaki sepuluh negara berbeda untuk mencari tahu kebahagiaan di setiap wilayah tersebut.

Sebenarnya penulis tidak sedang mencari kebahagiaan. Dia hanya pergi ke suatu tempat, bertemu banyak orang, memperhatikan sekelilingnya, kemudian mencari tahu kenapa orang-orang di negara tersebut bahagia, ataupun sebaliknya.
Sebagaimana Eric Weiner, saya juga tertarik pada buku ini bukan karena ingin mencari makna kebahagiaan. Kata geography pada judul buku tersebut memikat saya untuk menyelami isinya lebih dalam. Dan memang benar, buku ini sangat menarik.
Baca Juga: Review Buku The Geography of Bliss – Akankah Kita Menjadi Bahagia Setelah Membacanya?
Saya merasa seolah sedang bertamasya saat membaca buku ini—membayangkan setiap tempat yang penulis sebut dan berimajinasi tentang bagaimana suasana serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Saya tertegun, ternyata membaca bisa memberi efek seperti itu.
Salah satu alasan mengapa buku ini seolah menjadi turning point bagi saya juga mungkin karena momen yang mendukung.
Saya membaca buku ini saat sedang dalam masa penyembuhan dan memerlukan istirahat selama beberapa bulan. Karena tidak bisa ke mana-mana, membaca The Geography of Bliss seolah membawa angin segar bagi saya.
Buku ini tidak hanya membuat saya ingin membaca lebih banyak, tetapi juga membantu saya bertemu buku-buku menarik lainnya seperti Sang Alkemis The Dignity of Writing, dan Welcome to Hyunam-dong Bookshop.
Baca Juga:
Diperlukan Banyak Batu Untuk Akhirnya Mendapatkan Sebuah Giok
Saya sangat menikmati kata demi kata saat membaca The Geography of Bliss. Buku yang memiliki tebal 532 halaman itu tidak terasa seperti beban bagi saya. Saat sampai pada bagian akhir buku, saya mendapatkan satu pencapaian baru dalam hidup: menyelesaikan buku dengan tebal 500 halaman.
Buku ini telah berhasil membuat saya ingin membaca lebih banyak lagi. Pada akhirnya, saya berhasil menemukan genre favorit dalam membaca. Sepertinya perkataan Mbak Nana itu tidak keliru, hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca.
Ada perasaan bersalah karena saya terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu di awal. Saya jadi tersadar bahwa untuk menemukan buku yang tepat, kita tidak harus selalu tergesa.
Sebagaimana batu giok, untuk mendapatkan perhiasan hijau yang berkilau dan berharga, kita perlu memilih-milih batu mentah di pegunungan atau sungai terlebih dahulu. Saat menemukan batu pun, kita belum tentu menemukan bongkahan giok yang berharga.
Mungkin batu pertama tidak mengandung giok sama sekali. Kemudian, batu ke-30 hanya mengandung sedikit giok saja. Akhirnya, kita dapat menemukan giok berharga di batu yang ke-53. Namun dalam kasus orang lain, bisa jadi batu pertama sudah mengandung giok yang bernilai fantastis.
Begitu pula dengan membaca. Untuk menemukan buku yang tepat, setiap orang menempuh proses yang berbeda. Ada orang yang langsung klik dengan buku pertama, namun ada juga orang yang harus membaca 100 buku terlebih dahulu untuk akhirnya bisa bersua dengan satu buku yang bisa membuatnya jatuh cinta pada membaca.
Bagaimana dengan kalian? Di buku ke berapa kalian akhirnya jatuh cinta pada membaca?***
